Membaca Masyarakat Transisi: Manusia, Kesadaran, dan Pendidikan dalam Pemikiran Paulo Freire
-
September 3, 2026
- 22 views
- 12 minutes Read
Bab I: Pendidikan yang Membebaskan dan Relevansinya bagi Pendidikan di Tengah Perubahan Zaman
Paulo Freire mengawali Pendidikan yang Membebaskan (Educação como Prática da Liberdade) bukan dengan pembahasan mengenai metode pembelajaran, melainkan dengan persoalan yang lebih fundamental mengenai keberadaan manusia dalam hubungannya dengan dunia. Bagi Freire, menjadi manusia berarti memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan yang sadar dengan realitas, memahami perubahan yang terjadi di dalamnya, serta mengambil tindakan terhadap realitas tersebut. Manusia tidak sekadar berada di dalam dunia sebagai bagian dari realitas biologis, tetapi mampu mengambil jarak dari realitas untuk merefleksikan, menilai, dan mengubahnya. Kemampuan tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki historisitas, yaitu makhluk yang hidup dalam waktu sekaligus mampu menyadari dan memberi arah terhadap perjalanan sejarahnya.
Pandangan tersebut menjadi dasar penting bagi keseluruhan pemikiran Freire tentang pendidikan. Manusia tidak dipahami sebagai objek yang hanya menerima pengaruh dari lingkungan, melainkan sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk memilih dan mengambil keputusan. Hubungan manusia dengan dunia berlangsung melalui proses yang dinamis karena manusia menghadapi berbagai tantangan, merefleksikannya, kemudian menentukan respons yang dianggap tepat. Dalam proses tersebut, manusia tidak hanya menyesuaikan diri terhadap realitas, tetapi juga memiliki kemungkinan untuk memberikan makna baru dan mengubah realitas yang dihadapinya. Oleh sebab itu, bagi Freire, kualitas kemanusiaan sangat berkaitan dengan kemampuan manusia untuk berpartisipasi secara sadar dalam dunia dan sejarahnya.
Adaptasi atau Integrasi?
Salah satu gagasan penting dalam Bab I adalah pembedaan antara adaptasi dan integrasi. Adaptasi terjadi ketika manusia sekadar menyesuaikan diri dengan realitas yang ada, sementara integrasi menuntut kemampuan untuk memahami realitas sekaligus mengambil posisi terhadapnya. Freire tidak sedang mengatakan bahwa kemampuan beradaptasi sama sekali tidak diperlukan, sebab setiap manusia membutuhkan kemampuan tersebut untuk bertahan dalam lingkungan sosial maupun alamiah. Persoalannya muncul ketika adaptasi menjadi satu-satunya bentuk hubungan manusia dengan realitas sehingga manusia kehilangan kemampuan untuk memilih, mengambil keputusan, dan melakukan intervensi terhadap keadaan. Dalam kondisi demikian, manusia berisiko berubah dari subjek menjadi objek yang sekadar mengikuti keputusan dan struktur yang berasal dari luar dirinya.
Pembedaan ini memiliki konsekuensi filosofis yang penting. Manusia sebagai subjek tidak hanya menerima dunia sebagaimana adanya, tetapi berusaha memahami bagaimana dunia terbentuk dan kemungkinan apa yang dapat dikembangkan di dalamnya. Sebaliknya, manusia yang hanya beradaptasi cenderung menerima realitas sebagai sesuatu yang sudah selesai dan karena itu tidak melihat kemungkinan untuk mengubahnya. Freire bahkan menghubungkan kehilangan kemampuan memilih dengan proses dehumanisasi karena manusia secara perlahan kehilangan kapasitasnya untuk menentukan arah kehidupannya sendiri. Dengan demikian, persoalan utama bukan sekadar apakah manusia mampu menyesuaikan diri, melainkan apakah di tengah proses penyesuaian tersebut ia tetap memiliki kapasitas untuk berpikir, memilih, dan bertindak secara otonom.
Masyarakat dalam Masa Transisi
Dari pembahasan mengenai manusia dan hubungannya dengan realitas, Freire kemudian membawa analisisnya pada konsep masyarakat transisi. Menurutnya, transisi tidak dapat disamakan begitu saja dengan perubahan karena perubahan dapat berlangsung tanpa menggeser struktur nilai dan cara berpikir masyarakat secara mendasar. Transisi terjadi ketika suatu masyarakat mulai bergerak dari satu konfigurasi historis menuju konfigurasi yang baru, ditandai oleh munculnya nilai, aspirasi, kepentingan, dan cara memahami realitas yang berbeda dari sebelumnya. Dalam keadaan tersebut, nilai-nilai lama belum sepenuhnya kehilangan pengaruh, sementara nilai-nilai baru belum sepenuhnya memperoleh bentuk yang stabil. Karena itu, masa transisi pada dasarnya merupakan ruang historis yang penuh dengan ketegangan, kontradiksi, pilihan, dan kemungkinan.
Bagi Freire, manusia memiliki peran penting dalam menentukan arah suatu masa transisi. Kemampuan tersebut sangat bergantung pada sejauh mana manusia mampu menangkap dan memahami tema-tema utama yang muncul dalam zamannya. Apabila manusia tidak mampu membaca perubahan secara kritis, mereka akan cenderung hanyut sebagai objek dari perubahan dan bukan menjadi pelaku yang turut menentukan arahnya. Sebaliknya, kemampuan membaca realitas memungkinkan manusia memahami kontradiksi antara nilai-nilai lama yang masih dipertahankan dan nilai-nilai baru yang mulai berkembang. Karena itu, masa transisi tidak hanya menuntut kemampuan untuk menghadapi perubahan, tetapi juga membutuhkan kemampuan intelektual dan moral untuk menentukan perubahan seperti apa yang layak diperjuangkan.
Dalam konteks inilah Freire memberikan perhatian besar pada fenomena humanisasi dan dehumanisasi. Ketika manusia mampu memahami perubahan, memilih secara sadar, serta terlibat dalam pembentukan realitas, proses tersebut dapat memperkuat kedudukannya sebagai subjek. Namun ketika manusia kehilangan kemampuan memilih dan hanya mengikuti kekuatan eksternal, perubahan justru dapat menjadi instrumen yang menjadikannya semakin pasif dan terasing. Freire melihat bahwa masyarakat yang sedang mengalami transisi memiliki kemungkinan bergerak ke arah yang lebih manusiawi, tetapi juga memiliki risiko kembali menuju bentuk dominasi yang lama atau bahkan menciptakan bentuk dominasi baru. Dengan demikian, transisi bukanlah proses yang secara otomatis menghasilkan kemajuan karena arah perubahan tetap ditentukan oleh kualitas kesadaran dan partisipasi manusia di dalamnya.
Ketika Manusia Kehilangan Kemampuan Memilih
Freire melihat salah satu ancaman terbesar masyarakat modern pada munculnya manusia yang kehilangan kemampuan untuk menentukan pilihan secara autentik. Dalam masyarakat yang semakin kompleks, manusia dapat dengan mudah dipengaruhi oleh mitos, propaganda, iklan, ideologi, maupun berbagai bentuk kekuasaan yang menawarkan penafsiran siap pakai mengenai realitas. Masalahnya bukan semata-mata keberadaan pengaruh tersebut, melainkan ketika manusia tidak lagi mampu menguji dan merefleksikan pengaruh yang diterimanya. Dalam keadaan demikian, seseorang dapat merasa bebas karena memiliki banyak pilihan, padahal pilihan-pilihan tersebut sebenarnya telah dibentuk dan diarahkan oleh kekuatan di luar dirinya.
Di sinilah pemikiran Freire memiliki relevansi yang kuat dengan persoalan masyarakat kontemporer. Perkembangan teknologi informasi telah memperluas akses manusia terhadap pengetahuan, tetapi akses yang lebih besar terhadap informasi tidak dengan sendirinya menghasilkan kemampuan berpikir yang lebih kritis. Seseorang dapat menerima ribuan informasi setiap hari, tetapi tetap tidak mampu membedakan fakta, opini, manipulasi, dan prasangka. Bahkan, semakin banyak informasi yang diterima tanpa kemampuan untuk menguji sumber dan argumentasinya, semakin besar pula kemungkinan seseorang menjadi objek dari berbagai kepentingan yang bekerja melalui informasi tersebut. Oleh karena itu, kebebasan tidak dapat hanya dipahami sebagai kemampuan memilih dari banyak alternatif, tetapi juga sebagai kemampuan memahami dasar dari pilihan tersebut.
Kesadaran sebagai Proses
Dalam Bab I, Freire menjelaskan perkembangan kesadaran manusia melalui beberapa tingkatan, mulai dari kesadaran semi-intransitif, kesadaran transitif-naif, hingga kesadaran transitif-kritis. Kesadaran semi-intransitif memiliki cakrawala pemahaman yang relatif terbatas karena perhatian manusia terutama tertuju pada kebutuhan-kebutuhan dasar dan lingkungan kehidupan yang langsung dihadapinya. Ketika cakrawala pengalaman berkembang, manusia mulai memiliki kesadaran transitif, yaitu kemampuan untuk menangkap persoalan yang lebih luas daripada kebutuhan biologis semata. Namun perkembangan tersebut belum otomatis menghasilkan kesadaran kritis karena kesadaran transitif masih dapat berada dalam bentuk yang naif dan rentan terhadap penjelasan yang sederhana, emosional, serta tidak didasarkan pada analisis sebab-akibat.
Kesadaran transitif-naif menjadi problematis ketika perkembangan kemampuan memahami dunia tidak disertai dengan perkembangan kemampuan untuk menguji pemahaman tersebut. Dalam keadaan demikian, manusia mungkin menjadi lebih aktif berbicara tentang berbagai persoalan, tetapi belum tentu mampu menganalisis persoalan secara mendalam. Perdebatan dapat berubah menjadi polemik, perbedaan pendapat menjadi konflik identitas, dan keyakinan pribadi dianggap sebagai kebenaran yang tidak perlu diuji. Freire melihat kondisi semacam ini sebagai salah satu pintu menuju fanatisme dan masifikasi karena manusia dapat merasa sedang berpikir secara bebas padahal sebenarnya mengikuti pola pikir yang telah dibentuk oleh kekuatan tertentu. Karena itu, peningkatan aktivitas sosial atau politik saja tidak cukup untuk menghasilkan kesadaran kritis.
Kesadaran transitif-kritis memiliki karakter yang berbeda. Kesadaran tersebut ditandai oleh kemampuan memahami persoalan secara lebih matang, melihat hubungan sebab-akibat, menguji pengetahuan yang diperoleh, menghindari prasangka, serta terbuka terhadap kemungkinan bahwa pemahamannya sendiri dapat dikoreksi. Kesadaran kritis juga tidak identik dengan penolakan terhadap segala sesuatu yang lama atau penerimaan otomatis terhadap segala sesuatu yang baru. Justru, manusia yang kritis mampu menilai gagasan berdasarkan argumentasi dan relevansinya, bukan semata-mata berdasarkan usia, kebaruan, popularitas, atau siapa yang menyampaikannya. Dalam pengertian ini, berpikir kritis merupakan proses intelektual yang menuntut keterbukaan, refleksi, dialog, dan tanggung jawab.
Radikalisme dan Sektarianisme
Freire kemudian membuat pembedaan yang penting antara radikalisme dan sektarianisme. Radikalisme, dalam pengertian Freire, tidak identik dengan kekerasan atau fanatisme, melainkan menunjuk pada keterlibatan yang mendalam terhadap persoalan yang diyakini penting, disertai sikap kritis, keterbukaan, komunikasi, dan penghormatan terhadap kebebasan orang lain. Orang yang radikal dapat memiliki keyakinan yang kuat, tetapi tidak menjadikan keyakinannya sebagai alasan untuk meniadakan hak orang lain untuk berpikir dan memilih. Karena itu, radikalisme dalam kerangka Freire memiliki dimensi dialogis dan humanis. Ia tidak berhenti pada keyakinan, tetapi menghubungkan keyakinan dengan refleksi dan tindakan yang bertanggung jawab.
Sebaliknya, sektarianisme justru tumbuh dari ketertutupan terhadap dialog. Kaum sektarian, baik yang berada di posisi politik kanan maupun kiri, menurut Freire memiliki kecenderungan yang sama dalam hal memandang dirinya sebagai pemilik kebenaran dan sejarah. Mereka cenderung melihat masyarakat sebagai massa yang harus diarahkan, bukan sebagai kumpulan subjek yang memiliki kemampuan berpikir dan mengambil keputusan. Karena itu, sektarianisme dapat menghasilkan aktivisme tanpa refleksi, slogan tanpa analisis, serta tindakan yang tidak didahului oleh pemeriksaan kritis terhadap realitas. Dalam konteks ini, Freire memberikan peringatan bahwa seseorang dapat tampak sangat aktif dalam memperjuangkan perubahan tetapi sekaligus gagal membangun kondisi yang benar-benar membebaskan.
Asistensialisme dan Bahaya Ketergantungan
Kritik Freire terhadap asistensialisme juga menjadi bagian penting dari argumentasi Bab I. Bantuan pada dirinya sendiri tentu bukan sesuatu yang buruk, tetapi bantuan dapat berubah menjadi problem ketika penerimanya ditempatkan sebagai objek yang pasif dan tidak diberi ruang untuk mengambil keputusan. Dalam situasi tersebut, bantuan tidak mengembangkan kapasitas manusia untuk menyelesaikan persoalannya sendiri, melainkan justru mempertahankan ketergantungan kepada pihak yang memberikan bantuan. Freire memandang kondisi semacam itu bertentangan dengan panggilan manusia sebagai subjek karena manusia kehilangan kesempatan untuk belajar melalui tanggung jawab dan pengalaman mengambil keputusan. Oleh sebab itu, persoalan utama bukan apakah manusia menerima bantuan, melainkan apakah bantuan tersebut memperkuat atau justru melemahkan kapasitasnya sebagai subjek.
Gagasan ini memberikan perspektif yang menarik terhadap pendidikan. Guru memang memiliki tanggung jawab untuk memberikan bantuan kepada peserta didik, tetapi bantuan pedagogis tidak seharusnya selalu berupa pemberian jawaban atas setiap persoalan. Pendidikan yang baik justru perlu menciptakan pengalaman yang memungkinkan peserta didik menghadapi masalah, mengembangkan pertanyaan, mempertimbangkan alternatif, membuat keputusan, dan belajar dari konsekuensinya. Dengan cara demikian, bantuan guru berfungsi sebagai penguat kapasitas, bukan sebagai pengganti kapasitas berpikir peserta didik. Dalam perspektif Freire, pendidikan yang membebaskan bukan pendidikan yang menghilangkan kesulitan dari kehidupan peserta didik, tetapi pendidikan yang membantu mereka memperoleh kemampuan untuk menghadapi kesulitan secara semakin mandiri dan sadar.
Pendidikan sebagai Jalan Menuju Kesadaran Kritis
Pada titik inilah pendidikan memperoleh posisi sentral dalam pemikiran Freire. Pendidikan diperlukan agar manusia mampu merefleksikan dirinya, memahami tanggung jawabnya, serta mengenali perannya dalam realitas sosial dan historis yang sedang berlangsung. Kesadaran kritis tidak dapat dianggap sebagai akibat otomatis dari meningkatnya pendidikan formal, pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, atau kemajuan teknologi. Perkembangan tersebut memang dapat memperluas pengalaman manusia dan membuka cakrawala baru, tetapi tidak dengan sendirinya menghasilkan kemampuan kritis. Menurut Freire, kesadaran kritis perlu dikembangkan secara sengaja melalui proses pendidikan yang aktif, dialogis, dan berhubungan dengan persoalan nyata yang dihadapi manusia.
Konsekuensinya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang memiliki pengetahuan. Pendidikan perlu mengembangkan kemampuan manusia untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam memahami realitas dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Dalam proses ini, dialog menjadi sangat penting karena kesadaran tidak berkembang melalui hubungan satu arah yang menempatkan satu pihak sebagai pemilik pengetahuan dan pihak lain sebagai penerima pasif. Dialog memungkinkan manusia menguji pemahamannya melalui perjumpaan dengan pengalaman dan pandangan orang lain. Dengan demikian, pendidikan menjadi ruang bagi manusia untuk bergerak dari sekadar mengetahui dunia menuju kemampuan untuk memahami posisi dirinya di dalam dunia dan
Membaca Freire dalam Konteks Pendidikan Hari Ini
Bab I Pendidikan yang Membebaskan ditulis dalam konteks historis Brasil pada pertengahan abad ke-20 sehingga tidak tepat apabila seluruh diagnosis Freire terhadap masyarakat Brasil diterapkan secara langsung pada kondisi pendidikan Indonesia masa kini. Namun, kerangka konseptual yang digunakannya tetap menawarkan sejumlah pertanyaan yang relevan untuk direnungkan. Perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan artifisial, derasnya arus informasi, perubahan karakter pekerjaan, dan transformasi kehidupan sosial menunjukkan bahwa pendidikan juga berada dalam situasi transisi. Dalam situasi seperti itu, sekolah tidak hanya berhadapan dengan tuntutan untuk mengikuti perubahan, tetapi juga dengan pertanyaan tentang bagaimana membantu peserta didik memahami perubahan tersebut secara kritis.
Pertanyaan tersebut membawa kita kembali kepada pembedaan Freire antara adaptasi dan integrasi. Sekolah tentu perlu membantu peserta didik beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk mengembangkan literasi, numerasi, keterampilan digital, kemampuan menggunakan teknologi, dan berbagai kompetensi baru. Namun, pendidikan akan menjadi jauh lebih bermakna apabila peserta didik juga dibantu memahami dampak perubahan tersebut, mempertanyakan asumsi yang menyertainya, serta mempertimbangkan konsekuensinya bagi manusia dan kehidupan bersama. Dengan kata lain, pendidikan tidak cukup mempersiapkan anak agar mampu hidup di dunia yang ada, tetapi juga perlu memberi mereka kapasitas untuk memahami dan turut membentuk dunia yang akan mereka warisi. Di sinilah gagasan Freire mengenai manusia sebagai subjek memperoleh relevansinya.
Pada akhirnya, Bab I Pendidikan yang Membebaskan dapat dibaca sebagai ajakan untuk memikirkan kembali hubungan antara manusia, kesadaran, perubahan, dan pendidikan. Freire menunjukkan bahwa masyarakat yang sedang berubah selalu mengandung kemungkinan ganda: perubahan dapat membuka jalan menuju humanisasi, tetapi juga dapat menghasilkan bentuk baru dari dehumanisasi apabila manusia kehilangan kemampuan untuk memahami dan menentukan arah perubahan. Karena itu, tantangan pendidikan bukan hanya menghasilkan manusia yang kompeten dalam menghadapi perubahan, melainkan manusia yang memiliki kemampuan reflektif dan kritis untuk membaca perubahan tersebut. Pendidikan yang demikian tidak menjadikan manusia sekadar penonton sejarah, tetapi membantu mereka menjadi subjek yang sadar bahwa pilihan dan tindakan mereka memiliki konsekuensi terhadap dunia yang lebih luas.
Dengan demikian, membaca Bab I tidak harus berakhir pada pertanyaan tentang apa yang dikatakan Freire, tetapi dapat dilanjutkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang terjadi ketika manusia berhenti mempertanyakan realitas yang dihadapinya? Ketika pertanyaan tersebut dibawa ke dalam pendidikan, kita mulai melihat bahwa pembelajaran bukan hanya persoalan transfer pengetahuan, melainkan juga proses pembentukan cara manusia memahami dirinya dan dunianya. Sekolah memiliki posisi strategis karena di dalamnya anak-anak tidak hanya belajar tentang dunia, tetapi juga belajar bagaimana menempatkan diri sebagai bagian dari dunia tersebut. Dari sinilah pendidikan dapat dipahami bukan sekadar sebagai proses mempersiapkan manusia untuk menghadapi masa depan, melainkan sebagai proses membantu manusia menjadi subjek yang mampu membaca, merefleksikan, dan mengambil bagian dalam pembentukan masa depannya.
bersambung ke bab II…
Sumber Utama
Freire, Paulo. Pendidikan yang Membebaskan (Educação como Prática da Liberdade). Terjemahan Martin Eran. Jakarta: MELIBAS, 2001.
Catatan: Artikel ini merupakan hasil pembacaan dan pemaknaan SD Negeri Maospati 3 terhadap pemikiran Paulo Freire dalam Bab I, Masyarakat Transisi.


